TBC – Penyebab, Gejala, Komplikasi, dan Cara Pencegahan

demam, tenggorokan sakit, dan pusing kepala?

Penyakit TBC adalah peyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis menyebabkan sakit di paru-paru.

TBC atau Tuberculosis merupakan salah satu penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar kedua setelah penyakit HIV.

Penyebab Penyakit TBC

Penyebab utama penyakit TBC adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Ada banyak faktor yang dapat memicu seseorang dapat tertular penyakit TBC, berikut penularan penyakit TBC, seperti:

Percikan air liur

Bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat menyebar melalui percikan liur yang dilepaskan ke udara oleh penderita TBC saat mereka bersin, batuk, atau meludah. Berbeda dengan flu dan batuk yang dapat menular depan cepat, penularan penyakit TBC membutuhkan beberapa waktu.

Proses penularan bakteri TBC membutuhkan kontak yang cukup dekat dan lama dengan penderita. Misalnya, tinggal atau kerja bersama dan sering melakukan interaksi dalam kesehariannya.

HIV

HIV Test

HIV Infeksi virus AIDS yang jadi penyebab HIV juga bisa memicu infeksi TBC. Penderita HIV memiliki sistem imun tubuh yang lebih rendah daripada orang lain. hal itulah yang membuat tubuhnya lebih mudah terserang penyakit, seperti TBC.

Konsumsi obat tertentu

Perlu berhati-hati terhadap konsumsi jenis obat tertentu karena hal itu bisa memicu infeksi TBC. Transplantasi organ, obat kortikosteroid, atau jenis obat lain merupakan beberapa contohnya.

Selain itu, perlu kamu waspada juga terhadap beberapa kelompok orang yang lebih mudah tertular TBC, di antaranya:

  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah (bayi, anak-anak, lansia, atau penderita HIV/AIDS) kekurangan gizi, diabetes, dan gagal ginjal stadium akhir, kanker
  • Perokok
  • Orang yang tinggal atau bekerja di lingkungan berisiko tinggi, misalnya panti jompo atau tempat penampungan tunawisma
  • Orang yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh
  • Petugas medis yang merawat pasien TBC
  • Orang yang tinggal dengan penderita TBC
  • Orang dengan gaya hidup buruk, seperti menyalahgunakan narkoba atau mengonsumsi alkohol
  • Orang yang sedang menjalani pengobatan yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, seperti kemoterapi
  • Orang yang mengonsumsi obat imunosupresan, misalnya penderita kanker, lupus, rheumatoid arthritis, dan penyakit Crohn

Gejala Penyakit TBC

Sebenarnya ada berbagai jenis penyakit TBC, namun yang paling sering ditemui adalah yang menyerang paru-paru. Tidak heran jika gejala pertama yang biasa terlihat terjadi pada organ pernafasan. Berikut ini beberapa gejala pada TBC paru yang berhubungan dengan sistem pernapasan.

Batuk lebih dari 3 minggu

Batuk jadi gejala TBC paling umum. Batuk TBC berbeda dengan batuk akibat infeksi virus lainnya. Batuk TBC biasanya terjadi selama 3 minggu atau lebih. Sedangkan umumnya, batuk akibat infeksi virus atau alergi lebih cepat hilang.

Nyeri dada

Orang yang terinfeksi bakteri M. tuberculosis juga sangat mungkin mengalami nyeri dada. Nyeri dada ini bisa terasa saat batuk ataupun mengambil napas.

Munculnya nyeri dada pada pasien tuberkulosis dapat terjadi karena efusi pleura. Efusi pleura sendiri adalah terbentuknya cairan antara pleura (selaput tipis yang membungkus paru-paru) dengan rongga dada.

Kelelahan

Kelelahan yang ekstrem juga jadi salah satu gejala TBC yang umum terjadi. Bakteri penyebab TBC merusak paru-paru. Akibatnya, kemampuan paru-paru dalam menyerap oksigen pun jadi berkurang. Padahal, seluruh sel-sel tubuh membutuhkan oksigen agar dapat bekerja dengan benar.

Demam

Demam adalah salah satu respons alami yang muncul saat tubuh sedang melawan kuman penyebab penyakit (patogen). Hal ini menemukan sistem imun tubuh sedang berusaha untuk membunuh kuman penyakit.

Baca juga Lingkungan dan Rumah Kumuh – Penyebab TBC & Cara Mengatasi

Berat badan turun drastis

Penurunan berat badan juga jadi salah satu gejala TBC yang mungkin terjadi. Hal ini juga masih berhubungan dengan poin sebelumnya, yakni kehilangan nafsu makan.

Selain gejala yang dapat menyerang paru-paru, ternyata bakteri M. tuberculosis juga dapat menyebar ke organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, usus, kulit, otak, dan sebagainya.

Bakteri M. tuberculosis yang ditemukan di luar paru disebut dengan TB ekstra paru. TB ekstra paru memunculkan gejala yang berbeda dibandingkan dengan tuberkulosis paru, mengutip dari CDC.

Komplikasi Penyakit TBC

Komplikasi penyakit TBC bisa terjadi apabila kamu tidak segera memeriksa dan mengobati penyakit itu. Komplikasi tersebut dapat menyerang organ lain dan memperparah kondisimu. Berikut komplikasi penyakit TBC yang mungkin terjadi.

  • Nyeri tulang belakang TBC dapat menyerang bagian tulang mana pun, tapi paling sering menyerang tulang belakang.
  • Kerusakan sendi Artritis tuberkulosis biasanya menyerang pinggul dan lutut.
  • Pembengkakan pada selaput yang menutupi otak (meningitis) Bakteri penyebab TBC terkadang dapat berpindah ke sekeliling otak dan cincin tulang belakang (meninges).
  • Masalah hati atau ginjal Hati dan ginjal membantu menyaring limbah dan kotoran dari aliran darah. Fungsi ini menjadi terganggu jika hati atau ginjal terkena tuberkulosis.
  • Bisa menyebabkan gangguan jantung, walaupun jarang terjadi.

Diagnosis Penyakit TBC

Beberapa prosedur pemeriksaan medis yang umum dilakukan untuk mendiagnosis TBC adalah:

  1. Tes kulit (Mantoux test)
    Tes kulit, atau mantoux tuberculin skin test (TST), merupakan metode yang paling sering digunakan dalam pemeriksaan TBC. Biasanya, tes ini dilakukan di negara-negara dengan angka kejadian TBC yang rendah, di mana kebanyakan orang hanya memiliki TBC jenis laten di dalam tubuhnya.
  2. The Interferon Gamma Release Assays (IGRA)
    IGRA adalah jenis pemeriksaan TBC terbaru yang dilakukan dengan mengambil sedikit sampel darah kamu. Tes darah dilakukan untuk mengetahui bagaimana sistem imun tubuh kamu merespons bakteri penyebab TBC.
  3. Sputum smear microscopy
    Tindakan Sputum smear microscopy yaitu mengambil sedikit cairan dahak untuk diperiksa di bawah mikroskop. kamu mungkin lebih mengenalnya dengan nama tes dahak atau pemeriksaan BTA.
  4. Rontgen thorax TB paru
    Hasil rontgen dada (thorax) dapat memberikan gambaran klinis dari kondisi paru-paru seseorang sehingga bisa mendeteksi penyakit TBC.

Apakah Penyakit TBC Bisa Sembuh?

Secara umum dapat dikatakan pasien TBC bisa sembuh asalkan ditangani dengan cara yang tepat dan sesuai aturan. Biasanya pasien TBC diberi obat kombinasi antibiotik dan suplemen yang dikenal dengan OAT (obat anti Tbc).

Tingkat kesembuhannya pun bergantung pada kondisi imun masing-masing pasien. Pada orang dengan daya tahan tubuh yang baik, pengobatan Tbc dengan OAT ini bisa menyembuhkan total penyakitnya.

Pengobatan Penyakit TBC

Pengobatan TBC yang tepat dilakukan melalui kombinasi beberapa jenis anti tuberkulosis yaitu obat antibiotik yang khusus digunakan untuk menghentikan infeksi bakteri TBC. Pengobatan terdiri atas dua tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.

Berikut adalah obat-obatan yang umum atau obat TBC di apotik yang digunakan adalah:

  • Isoniazid
  • Rifampin (Rifadin, Rimactane)
  • Ethambutol (Myambutol)
  • Pyrazinamide
  • Streptomisin

Pencegahan Penyakit TBC

Salah satu cara mencegah TBC adalah dengan menghentikan penularan TBC dari satu orang ke orang lain. Ini bisa dilakukan dengan mengidentifikasi penderita TBC, kemudian merawat, dan memberikan pengobatan. Apa saja yang bisa dilakukan untuk mencegah tuberkulosis?

  • Pemberian Vaksin BCG
  • Diagnosis Sejak Dini
  • Menjaga Lingkungan Tempat Tinggal
  • Tingkatkan Sistem Imun
  • Tutupi mulut saat bersin, batuk, dan tertawa.
  • Jika menggunakan tisu untuk menutup mulut, buang tisu segera setelah digunakan.
  • Jangan membuang dahak atau meludah sembarangan.
  • Pastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik, misalnya dengan sering membuka pintu dan jendela.
  • Jangan tidur sekamar dengan orang lain sampai dokter menyatakan TBC yang diderita telah sampai pada tahap tidak menular.

Jika anda masih takut untuk minum obat atau berobat ke dokter dengan menghabiskan uang yang banyak, anda bisa konsultasi dengan tim ADHS kami secara gratis.

Bagikan Artikel Ini

Baca Artikel Terkait Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.