Cacar Monyet – Penyebab, Gejala, Cara Penularan & Mengobati

cacar monyet

Last Updated on Juni 28, 2022 by Redaksi Autoimuncare

Cacar monyet yang juga dikenal dengan istilah monkeypox merupakan virus langka yang termasuk dalam kelompok Orthopoxvirus. Cacar monyet pertama kali muncul di negara Republik Demokratik Kongo pada 1970 silam.

monkeypox ini menular dari hewan ke manusia melalui cakaran atau gigitan hewan pengerat atau primata, seperti tupai, monyet atau tikus yang terinfeksi. Tak hanya itu, penularan virus ini juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang telah terinfeksi cacar monyet.

Penyebab Cacar Monyet

Penyebab virus cacar monyet termasuk dalam virus yang berasal dari hewan atau virus zoonosis. Awalnya, penularan virus monkeypox ini dari gigitan hewan liar seperti tupai.

Kemudian, para peneliti menemukan virus ini menginfeksi sekelompok monyet yang sedang diteliti di laboratorium. Sehingga, mereka memberi istilah cacar monyet.

Meskipun, wabah cacar monyet yang sekarang ini sedang marak cenderung menular di antara kelompok gay. Semua orang dari segala usia tetap berisiko tertular.

Pada kasus ini, orang-orang yang tergolong rentan terinfeksi cacar monyet adalah orang dewasa muda, remaja dan anak-anak, termasuk bayi. Sekitar 10 persen kasus kematian cacar monyet adalah anak-anak.

Gejala Cacar Monyet

Gejala awal cacar monyet biasanya akan muncul 6-16 hari sejak penderitanya terinfeksi. Periode ketika virus belum aktif atau belum menunjukkan gejala ini biasanya dikenal sebagai masa inkubasi.

Masa inkubasi monkeypox terjadi antara 6-13 hari. Tapi, masa inkubasi cacar monyet ini juga bisa lebih panjang sekitar 5-21 hari.

Gejala awal cacar monyet yang muncul pun mirip dengan flu biasa dan akan berkembang mirip dengan cacar air.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membagi gejala monkeypox menjadi dua periode, yakni periode invasi dan periode erupsi kulit.

1. Periode invasi

Gejala monkeypox dalam periode invasi terjadi sekitar 0-5 hari setelah seseorang pertama kali terinfeksi. Pada periode ini, orang yang terinfeksi akan menunjukkan beberapa gejala cacar monyet, yakni:

  1. Demam
  2. Sakit kepala
  3. Pembengkakan kelenjar getah bening
  4. Sakit punggung
  5. Nyeri otot
  6. Lemas parah

Pembengkakan kelenjar getah bening inilah yang membedakan cacar monyet dengan cacar lainnya, seperti cacar air dan cacar api.

Tapi, orang yang terpapar virus monkeypox melalui mulut atau saluran pernapasan mungkin akan mengalami gangguan pernapasan, seperti batuk, rasang tenggorokan dan hidung berair. Sedangkan, orang yang terkontaminasi dengan cara digigit binatang mungkin akan mengalami mual, muntah dan demam.

2. Periode erupsi kulit

Gejala utama monkeypox dalam periode erupsi kulit adalah ruam yang muncul pada 1-3 hari setelah penderita mengalami demam. Ruam akibat monkeypox ini biasanya cenderung menyerang parah di bagian wajah, telapak tangan dan kaki, meskipun bisa menyebar ke seluruh tubuh.

Bahkan, ruam monkeypox bisa terjadi di membran mukosa yang terletak di tenggorokan, area kelamin, jaringan dan kornea.

Ruam muncul diawali dengan bintik-bintik merah yang berubah menjadi bintil atau lepuhan berisi cairan. Seiring waktu, bintil ini akan bernanah dan pecah membentuk keropeng di kulit.

Tapi, perkembangan ruam dari mulai bintik merah hingga menjadi keropeng di kulit biasanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari. Pada masa itulah sampai keropeng terlepas sendiri, seseorang berisiko menularkan penyakitnya ke orang lain.

baca juga Batuk Berdahak – Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Cara Penularan

Umumnya, penularan virus monkeypox antar manusia lebih rendah. Tapi, virus ini tetap bisa menular melalui droplet orang yang terinfeksi ketika bersin atau batuk. Bahkan, virus ini bisa berpindah dari tubuh ibu hamil ke janin melalui plasenta.

Adapun beberapa faktor yang meningkatkan risiko penularan cacar monyet, seperti

  1. Kontak langsung tanpa alat pelindung dengan hewan liar
  2. Kontak dekat dengan monyet yang terinfeksi
  3. Merawat penderita cacar monyet
  4. Orang yang melakukan penelitian monkeypox di laboratorium
  5. Konsumsi daging hewan liar tanpa dimasak dengan matang sempurna
  6. Melalui saluran pernapasan
  7. Selaput lendir
  8. Air liur 
  9. Luka terbuka di kulit

Pengobatan

konsultasi dokter

Saat ini, belum ada pengobatan untuk monkeypox. Beberapa negara mencoba mengatasi cacar monyet menggunakan tecovirimat.

Tercovirimat ini membantu menghambat virus monkeypox berkembang biak dan menyebar ke orang lain. Obat ini merupakan jenis antivirus yang digunakan untuk mengobati cacar air, sama seperti cidofovir yang akan membantu proses pemulihan.

Tapi, penggunaan obat ini masih terbatas pada pasien dewasa yang berat badannya lebih dari 40 kg dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 13 kg.

Sementara itu, sekarang ini orang yang terinfeksi  cacar monyet dianjurkan istirahat dengan mengisolasi diri atau membatasi kontak dekat dengan orang lain. Selain itu, mereka harus mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisinya.

Untuk mengatasi gejala ringan anda bisa mencoba obat herbal MORICECARE untuk meningkatkan daya tahan tubuh anda. Sehingga tubuh lebih kuat melakukan proses penyembuhan

banner moricecare

Komplikasi

Cacar monyet tergolong penyakit yang memiliki tingkat kesembuhan tinggi, tetapi tetap bisa menimbulkan komplikasi. 

Komplikasi akibat monkeypox ini lebih berisiko terjadi pada anak-anak, orang dengan sistem kekebalan lemah, orang yang belum vaksinasi, orang yang tinggal di negara edemi dan lingkungan dengan sanitasi buruk. Adapun komplikasi yang bisa terjadi akibat monkeypox, seperti:

  1. Radang otak
  2. Infeksi kornea
  3. Infeksi paru-paru
  4. Infeksi bakteri

Kapan Harus ke Dokter?

Bila Anda telah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi monkeypox atau hewan liar dan baru saja bepergian dari wilayah wabah ini berasal, lebih baik periksakan diri ke dokter.

Meskipun seseorang dengan cacar monyet bisa sembuh dengan sendirinya, tapi gejala yang dirasakan mungkin akan mengganggu aktivitas harian. Bahkan, gejala monkeypox cenderung lebih lama dibandingkan cacar air biasa.

Karena itu, konsultasi dengan dokter akan memberikan pengobatan yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi. Anda juga bisa konsultasi dengan AICI bila merasa mengalami gejala mirip monkeypox.

konsultasi banner

Bagikan Artikel Ini

Baca Artikel Terkait Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.