Berikut Bagaimana Cara Penularan HIV Secara Umum

Berikut Bagaimana Cara Penularan HIV Secara Umum. – HIV atau Human Immunodeficiency Virus merupakan salah satu jenis penyakit yang bisa menular, baik kepada pria maupun wanita. Namun di tengah-tengah masyarakat masih ada informasi simpang siur mengenai bagaimana cara penularan HIV tersebut. Meskipun menjadi penyakit menular namun penularannya hanya melalui beberapa metode. 

Hal ini sama dengan penyakit menular lainnya, yang memang metode penularannya akan berbeda-beda. Sehingga satu penyakit bisa menular lewat aktivitas A tidak lantas membuat semua penyakit menular akan menular dengan aktivitas A tersebut. HIV maupun AIDS tidak seperti hepatitis yang menular lewat penggunaan piring dan sendok makan yang sama. Lantas, apa saja dan bagaimana penularan penyakit HIV ini? 

Bagaimana Cara Penularan HIV ?

Secara mendasar penyakit HIV menular melalui cairan tubuh penderita ke orang sehat. Sehingga bisa melalui darah, air mani, dan air susu ibu (ASI) yang tentu saja penularannya memiliki metode yang terbatas. Berikut bentuk penularan HIV: 

Hubungan Seksual 

Penularan HIV yang paling jamak dijumpai kasusnya adalah dari hubungan seksual tanpa pengaman atau kondom. Hubungan seksual akan terjadi pertukaran cairan, salah satunya air mani dari penderita ke orang sehat. Pada dasarnya segala bentuk aktivitas seksual baik normal, anal, maupun oral berpotensi menularkan HIV. 

ISK

Resiko semakin meningkat pada seseorang yang memiliki pasangan seksual lebih dari satu. Selain itu juga dialami oleh orang-orang yang memiliki perilaku seksual yang beresiko, misalnya melalui anal seks. Alangkah baiknya memilih hubungan seksual dengan resiko rendah dan selalu memakai kondom. 

Penggunaan Jarum Suntik Bergantian 

Penggunaan jarum suntik yang sudah terkontaminasi oleh darah dari pasien HIV akan menjadi media penularan. Sebab terjadi perpindahan darah dari pasien ke orang sehat. Maka tidak dianjurkan untuk memakai jarum suntik bergantian, dimanapun dan kapanpun. 

Resiko penularan lewat jarum suntik lebih tinggi pada orang-orang yang melakukan prosedur tato dan tindik. Khususnya di tempat tato maupun tindik yang tidak menerapkan prosedur medis, yakni tidak membersihkan jarum tato setelah dipakai melayani pelanggan. Resiko tinggi juga dialami bagi pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik karena biasanya dipakai bergantian. 

Ibu kepada Bayinya 

Ibu yang sedang hamil dan positif mengidap HIV memiliki resiko tinggi untuk menularkan HIV kepada bayinya. Proses kehamilan, persalinan, dan menyusui sudah akan meningkatkan resiko penularan. Maka untuk ibu dengan HIV dianjurkan rutin konsultasi ke dokter untuk mendapatkan solusi menurunkan resiko penularan. 

Terdapat beberapa kasus, meski masih sangat sedikit namun seorang ibu bisa tetap memiliki bayi tanpa HIV. Beberapa menjalani persalinan secara caesar, namun detailnya tentu perlu dikonsultasikan dengan dokter. Sebab kondisi ibu hamil yang berbeda memerlukan penanganan berbeda agar tidak menularkan HIV kepada bayinya. 

Transfusi Darah 

Sebagian kasus penularan HIV terjadi melalui prosedur transfusi darah, namun semakin kesini kasus serupa semakin langka. Sebab prosedur transfusi darah sudah diterapkan uji kelayakan donor. Sehingga semua prosedur donor diberlakukan uji kelayakan tersebut. 

Meliputi donor darah, donor organ, dan juga donor jaringan tubuh. Sehingga lewat prosedur donor ini bisa ditekan resiko penularan HIV. Sekaligus memastikan hanya pendonor yang layaklah yang bisa melakukan pendonoran untuk membantu keluarga maupun siapa saja yang membutuhkan. 

Perawatan Salon Kecantikan 

Memilih salon kecantikan memang perlu hati-hati, sebab terdapat kasus pelanggan terinfeksi HIV pasca melakukan perawatan. Beberapa kasus penularan HIV terjadi melalui perawatan manicure, pedicure, dan juga facial yang menggunakan alat khusus. 

Pada dasarnya penularan lewat perawatan salon ini bisa dihindari apabila salon tersebut menerapkan prosedur penggunaan alat perawatan sesuai aturan. Misalnya dengan menjaga kebersihannya atau langsung dibersihkan setelah digunakan melayani pelanggan salon, sehingga tidak ada resiko penularan HIV. 

Penularan kepada Petugas Medis 

Petugas kesehatan memiliki resiko untuk tertular HIV melalui pasien HIV yang ditanganinya. Penularannya bisa terjadi ketika tanpa sengaja petugas kesehatan tertusuk jarum suntik yang sudah terkontaminasi darah pasien HIV. BIsa pula karena terkena darah pasien HIV ketika memiliki luka yang terbuka. 

Menekan resiko petugas kesehatan tertular HIV dari pasien yang dirawatnya, maka disediakan prosedur pencegahan bernama PEP. Yakni profilaksis pasca pajanan yang merupakan perawatan pencegahan penularan HIV kepada petugas medis yang tertusuk jarum yang terkontaminasi HIV maupun .  

Cara Mencegah Penularan HIV 

Penularan HIV bisa disebabkan oleh banyak hal seperti penjelasan di atas, sehingga tidak hanya sebatas melalui hubungan seksual dengan penderita. Setelah mengetahui detailnya maka perlu meningkatkan kewaspadaan. Anda pun bisa mencoba mencegah penularan tersebut, caranya antara lain: 

Menggunakan Pengaman Saat Berhubungan Seksual 

Apabila pasangan yang dimiliki memang menderita HIV maka setiap kali berhubungan seksual wajib memakai pelindung atau kondom. Penggunaan pengaman ini bisa dilakukan untuk aktivitas seksual secara vaginal, anal, maupun oral. 

Menghindari Perilaku Seksual Beresiko 

Beberapa bentuk perilaku seksual memiliki resiko lebih tinggi dalam menularkan HIV. Salah satunya lewat anal seks, yang baik bagi pelaku maupun penerima memiliki resiko terkena infeksi HIV. Hanya saja resiko lebih besar dialami oleh penerima perilaku seks anal tersebut. Maka penting untuk memakai pelindung saat melakukannya. 

Tidak Menggunakan Jarum Suntik Bekas 

Penggunaan jarum suntik dilakukan untuk menyuntikan obat, dan jika dipakai bergantian atau memakai jarum suntik bekas. Maka meningkatkan resiko terjadi penularan ketika jarum suntik tersebut sudah terkontaminasi HIV. Oleh sebab itu hindari penggunaan jarum suntik bekas atau secara bergantian. 

Melakukan PrEP 

Melakukan PrEP atau Pre Exposure Prophylaxis merupakan salah satu metode pencegahan penularan HIV. Yakni dengan memberikan antiretroviral kepada orang-orang dengan resiko tinggi tertular HIV. Contoh orang dengan resiko tinggi ini antara lain: 

  1. Memiliki pasangan seksual lebih dari satu. 
  2. Memiliki pasangan yang sudah terinfeksi HIV atau merupakan pasien HIV. 
  3. Merupakan pengguna jarum suntik yang beresiko. 
  4. Sering melakukan hubungan seksual tanpa pengaman (kondom). 

Pemahaman atau stigma yang  keliru mengenai bagaimana cara penularan HIV bisa menghambat penanganannya di tengah masyarakat. Oleh sebab itu perlu edukasi secara tepat dan kontinyu agar membantu penanganan kasus HIV dengan tepat dan cepat. 

Lebih detail mengenai penularan HIV atau apapun yang berhubungan dengan penyakit satu ini. Anda bisa berkonsultasi melalui layanan Konsultan Kesehatan PT Autoimun Care Indonesia.

PT. Autoimun Care Indonesia memberikan fasilitas konsultasi gratis untuk Anda yang memiliki keluhan penyakit dan masalah mengenai HIV.

https://www.hiv.gov/hiv-basics/overview/about-hiv-and-aids/how-is-hiv-transmitted

Bagikan Artikel Ini

Baca Artikel Terkait Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.