4 Metode Diagnosis Batu Ginjal

Merasakan sensasi sakit saat buang air kecil? Mungkin perlu segera memeriksakan diri ke dokter, sebab bisa jadi diagnosis batu ginjal perlu dilakukan. Batu ginjal adalah salah satu jenis penyakit yang terjadi di organ ginjal. Penyebabnya beragam, dan yang paling utama adalah kebiasaan sehari-hari yang salah. 

Misalnya terbiasa kurang minum sehingga meningkatkan resiko mengalami batu ginjal. Jika sudah terbentuk maka akan memunculkan sejumlah gejala. Oleh dokter akan dilakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan pasien mengalami batu ginjal. 

Diagnosis Batu Ginjal 

Dalam proses diagnosis batu ginjal, pada langkah awal dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien. Misalnya ada tidaknya riwayat batu ginjal sebelumnya, kemudian juga dilakukan pemeriksaan secara fisik. Setelahnya, untuk memastikan pasien memang mengalami batu ginjal maka dilakukan pemeriksaan tambahan. Seperti: 

1. Tes Urine 

Jenis pemeriksaan yang pertama adalah tes urine atau air kencing. Pasien perlu menampung air kencing saat buang air kecil dan kemudian diperiksa di laboratorium rumah sakit. Pengecekan bertujuan untuk mengetahui kandungan kalsium atau asam urat pada air kencing tersebut. 

ISK

Jika kandungan kalsiumnya terbilang tinggi dan di atas angka normal. Maka kemungkinan pasien memang mengalami batu ginjal. Selebihnya dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui detail sifat atau karakter batu ginjal yang terbentuk. Sehingga bisa diketahui metode pengobatan mana yang sebaiknya digunakan. 

2. Tes Darah 

Tes darah juga menjadi jenis tes yang dilakukan dokter dalam melakukan diagnosis batu ginjal. Tes darah ini sesuai dengan namanya memang dilakukan dengan memeriksa sampel darah pasien. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui fungsi ginjal dan kandungan zat tertentu di dalam organ ginjal tersebut. 

Kandungan zat-zat di dalam ginjal kemudian bisa digunakan untuk menentukan ada tidaknya batu ginjal di dalamnya. Jika sudah diketahui maka pasien memang bisa menderita batu ginjal dan bisa juga sebaliknya. Langkah selanjutnya adalah tetap sama, yakni melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui karakter batu ginjal yang terbentuk.

3. Pemindaian 

Setelah menjalani salah satu atau kedua tes di atas, biasanya dokter yang mengetahui pasien memang punya indikasi batu ginjal akan melakukan pemindaian. Pemindaian kemudian bisa dikatakan sebagai pemeriksaan tambahan untuk mengetahui karakter dari batu ginjal yang terbentuk. 

Jenis pemeriksaan untuk melakukan pemindaian ini bisa menggunakan CT Scan, USG, atau menggunakan pemeriksaan USG. Sehingga dari hasil pemindaian ini diketahui batu ginjal memiliki ukuran berapa, lokasinya dimana, dan lain sebagainya yang memudahkan dokter menentukan metode pengobatan yang sesuai. 

4. Analisis pada Batu Ginjal yang Keluar 

Diagnosis batu ginjal juga bisa dilakukan dengan menganalisis batu ginjal yang keluar bersama urine. Biasanya pasien akan diminta buang air kecil di atas kain atau saringan khusus. Sehingga batu ginjal yang keluar bersama urine akan tersangkut di kain dan saringan tersebut. 

Batu ginjal inilah yang kemudian dianalisis atau diperiksa lebih jauh di laboratorium untuk dipastikan kandungannya apa. Sehingga bisa diketahui penyebab dari batu ginjal yang dialami pasien karena apa. Sekaligus untuk tujuan lain yang tentunya membantu dokter menentukan metode pengobatan yang paling tepat. 

Bagikan Artikel Ini

Baca Artikel Terkait Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.